Bangun Keluarga Tangguh, Anggota Komisi V DPRD Sumbar Yesi Endriani Gagas Sekolah Keluarga.
BUKITTINGGI,-Anggota Komisi V DPRD Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Yesi Endriani, gagas program Sekolah Keluarga untuk memperkuat ketahanan keluarga dan menekan berbagai persoalan sosial, mulai dari stunting, tuberkulosis (TBC), HIV/AIDS, hingga persoalan kesehatan mental remaja di Kota Bukittinggi.
“Melalui Sekolah Keluarga, kita ingin anak-anak tidak mengalami stunting, masyarakat terhindar dari TBC maupun HIV/AIDS. Program ini juga membahas fungsi kesehatan, fungsi ekonomi, hingga bagaimana membangun keluarga yang harmonis,” ujar Yesi saat diwawancarai, Rabu (1/7).
Dia mengatakan keluarga merupakan fondasi utama dalam membentuk generasi yang sehat dan berdaya saing. Karena itu, edukasi kepada keluarga harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya menyangkut kesehatan, tetapi juga ekonomi, pola asuh anak, komunikasi dalam rumah tangga, hingga pendidikan agama.
Dia menjelaskan, dalam pelaksanaannya Sekolah Keluarga menghadirkan berbagai narasumber sesuai bidang masing-masing. Mulai dari tenaga kesehatan, pakar pendidikan, tokoh agama, hingga praktisi ekonomi kreatif yang memberikan pelatihan pemberdayaan ekonomi keluarga.
Salah satu materi yang telah diberikan, kata Yesi, adalah pelatihan pengolahan sampah menjadi maggot sebagai alternatif meningkatkan pendapatan keluarga.
“Kami menghadirkan ahli dari berbagai bidang. Karena persoalan keluarga tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga kesehatan, pendidikan anak, komunikasi suami istri, hingga bagaimana membangun keluarga yang kuat dan tangguh,” katanya.
Yesi menilai banyak persoalan sosial bermula dari lemahnya ketahanan keluarga. Oleh sebab itu, penerapan delapan fungsi keluarga harus terus diperkuat agar mampu meningkatkan Indeks Pembangunan Keluarga (iBangga).
Menurutnya, keluarga yang menjalankan fungsi agama, pendidikan, kesehatan, perlindungan, kasih sayang, sosial budaya, ekonomi, dan pembinaan lingkungan akan melahirkan generasi yang lebih siap menghadapi tantangan zaman.
Selain itu, Yesi juga menaruh perhatian terhadap meningkatnya persoalan penyimpangan perilaku di kalangan remaja. Ia menegaskan pentingnya penguatan keluarga sebagai benteng utama agar tidak muncul korban-korban baru.
“Kita ingin keluarga menjadi tempat pertama dalam memberikan pendidikan agama, nilai moral, dan karakter kepada anak. Harapannya, anak-anak memiliki pondasi yang kuat sehingga tidak mudah terpengaruh oleh berbagai perilaku menyimpang,” ujarnya.
Untuk mendukung program tersebut, Yesi mengalokasikan anggaran aspirasi sebesar Rp500 juta pada 2025 melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Anggaran tersebut dimanfaatkan untuk memberikan pembekalan kepada tokoh masyarakat, ulama, RT, RW, lurah, jorong, hingga kader perempuan agar mampu menjadi perpanjangan tangan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.
“Tahun ini kami juga melaksanakan bimbingan teknis kepada guru-guru SMA. Kami ingin para guru ikut memperkuat pembinaan keluarga remaja, sehingga persoalan kesehatan mental yang kini banyak dialami generasi muda dapat ditangani lebih cepat,” jelasnya.
Ia berharap program Sekolah Keluarga dapat menjadi gerakan bersama dalam membangun keluarga yang berkualitas sehingga berbagai persoalan sosial dapat dicegah sejak dari lingkungan keluarga. Menurutnya, keluarga yang kuat akan melahirkan generasi yang sehat, produktif, dan menjadi modal penting bagi pembangunan daerah.





