Kabut Asap Menyelimuti Padang, Nanda Satria Imbau Warga Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan

PADANG — Wakil Ketua DPRD Sumatera Barat Nanda Satria mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan menyusul menurunnya kualitas udara akibat kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Kota Padang.

Nanda meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan mengutamakan kesehatan selama kondisi udara belum kembali normal. Imbauan tersebut terutama ditujukan kepada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta warga yang sensitif terhadap penurunan kualitas udara.

“Kita harus melihat kondisi ini sebagai persoalan kesehatan masyarakat. Ketika kualitas udara menurun dan kabut asap semakin terasa, masyarakat harus mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama aktivitas yang tidak terlalu mendesak,” ujar Nanda Satria.

Menurutnya, kabut asap yang terjadi di Padang diduga kuat merupakan dampak asap kiriman dari kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah provinsi tetangga. Kondisi tersebut turut memengaruhi kualitas udara di sejumlah daerah di Sumatera Barat.

Nanda mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap kondisi kabut asap sebagai persoalan biasa. Selain membatasi aktivitas di luar ruangan, masyarakat diminta menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, mencukupi kebutuhan cairan, dan beristirahat yang cukup.

“Di tengah kondisi seperti ini, menjaga kesehatan sangat penting. Konsumsi makanan bergizi dan sehat, cukup minum, serta istirahat yang cukup. Jangan sampai kondisi udara yang buruk kemudian menimbulkan masalah kesehatan baru,” katanya.

Minta Pemprov Pertimbangkan WFH

Tak hanya mengimbau masyarakat, Nanda juga meminta Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mempertimbangkan penerapan Work From Home (WFH) bagi ASN apabila kualitas udara terus memburuk dan berada pada level yang tidak sehat.

Menurutnya, WFH dapat menjadi langkah mitigasi sementara untuk mengurangi paparan terhadap udara yang buruk sekaligus menekan mobilitas masyarakat.

“Kita meminta Pemprov mempertimbangkan WFH bagi pegawai jika kondisi udara memang sudah tidak sehat. Ini bukan soal mengurangi pelayanan publik, tetapi bagian dari upaya melindungi kesehatan pegawai dan masyarakat,” tegasnya.

Nanda menilai penerapan kebijakan tersebut perlu disesuaikan dengan perkembangan kualitas udara dan kondisi pelayanan publik. Dengan demikian, perlindungan kesehatan tetap berjalan tanpa mengganggu pelayanan pemerintahan yang bersifat mendesak.

Sekolah Diminta Siapkan Opsi Pembelajaran Daring

Perhatian serupa disampaikan Nanda terhadap aktivitas pendidikan. Ia meminta pemerintah melalui instansi terkait mempertimbangkan pembelajaran secara daring apabila kualitas udara sudah tidak aman bagi aktivitas anak-anak di luar ruangan.

“Anak-anak harus menjadi perhatian utama. Jika kondisi udara tidak memungkinkan untuk kegiatan belajar di sekolah, maka pembelajaran daring dapat menjadi alternatif sementara sampai kualitas udara kembali membaik,” ujarnya.

Menurutnya, keputusan tersebut harus didasarkan pada hasil pemantauan kualitas udara serta koordinasi pemerintah daerah dengan instansi terkait. Langkah antisipasi dinilai lebih penting daripada menunggu kondisi semakin memburuk.

Nanda juga meminta pemerintah kabupaten dan kota di Sumatera Barat yang turut terdampak kabut asap mengambil langkah serupa sesuai kondisi daerah masing-masing. Pemantauan kualitas udara harus dilakukan secara berkala agar kebijakan yang diambil dapat merespons kondisi secara cepat.

“Yang paling penting sekarang adalah keselamatan dan kesehatan masyarakat. Kita berharap kondisi kabut asap ini segera berlalu dan kualitas udara di Sumatera Barat, khususnya Kota Padang, kembali normal,” tutup Nanda.